Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Desember 2014

Profil Ma'had Aly Darul Hikmah Nurul Hakim


Masjid Zakaria As-Salamah Nurul Hakim
Masjid Zakaria As-Salamah Nurul Hakim
A.      Latar Belakang Berdirinya
Pondok Pesantren adalah Lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang berkembang sejak zaman pra perjuangan bangsa Indonesia dan sampai saat ini terus menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.
Keberadaan pondok pesantren di Indonesia memiliki arti yang sangat penting untuk membangun bangsa Indonesia. Khususnya pembangunan sumberdaya manusia secara menyeluruh baik pembangunan –pembangunan mental, fakir, zikir dan karya  atau dalam bahasa pesantrennya iman,ilmudan amal.
Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan yang telah di capai oleh bangsa Indonesia pada segala bidang khususnya tehnologi dan secience dan semakin terbukanya arus imformasi dan budaya. Disamping adanya beberapa sebab dirasakan kaderisasi ulama pada podok pesantren mengalami kemandekan, maka pondok pesantren harus berfikir ulang terhadap keseimbangan system pendidikan dengan kemajuan yang telah dicapai oleh umat, khususnya kemajuan dalam bidang materi sehingga risalah pesantern untuk membangun manusia-manusia yang beriman berilmu dan beramal dapat terwujud.
Berdasarkan pemikiran diatas, Pondok Pesantren Nurul Hakim mengambil langkah strategis dengan mendirikan pendidikan tinggi yang dulunya dinamakan Qismul Aly dan sudah berjalan, namun tidak dikelola dengan baik sesuai dengan manajemen pendidikan.
Maka sejak tahun 1990 pondok peasantren nurul hakim mendirikan pendidikan tinggi pesantren yang dinamakan Ma`had Ali Darul Hikmah Lilfikhi Wadda`wah
B.       Visi dan Misi
  1. Visi
Unutuk mempersiapkan dan membina maha Santri untuk menjadi muslim,mukmin dan muhsin yang memiliki keluasan ilmu syariah dan wawasan keislaman yang memadai dan berjiwa ikhlas,tabah dan tanggap terhadap situasi, serta memeiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan syariat islam secara utuh dan dinamis.
  1. Misi
a.    Mengarahkan maha santri agar mencintai dan memperdalam ilmu – ilmu agama islam dan ilmu Bantu yang diperlukan
b.    Menanamkan etos tafakkuh fiddin dikalangan maha santri agar mereka mampu memehami islam secara benar.
c.    Mengkondisiskan maha santri dlam suasana yang dapat melahirkan da`I dan ulama yang mampu memecahkan masalah keagaman secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman.
d.   Mengkondisiskan maha santri dalam suasana yang dapat melahirkan guru agama, guru yang mampu mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santri Mts/MA, dipondok pesantren dan masyarakat.
C.       Penyelenggaraan Pendidikan
Ma’had Aly lilfikhi Wa Adda’wah adalah program pendidikan tinggi pesantren dalam bidang ilmu agama islam yamg diperuntukkan bagi para santri yang telah menamatkan madrasah Aliyah. Program pengajiannya lebih dititik baratkan pada pendalaman fiqih dan da’wah.
   Program pendidikan di Ma’had Aly  Darul Hikmah berlangsung minimal selama empat tahun atau delapan semester dengan program pendidikan sebagai berikut:
1.    Program Kajian Utama
Program kajian utama adalah kajian wajib bagi semua mahasantri yang dilakukan di dalam kelas masing-masing dengan menggunakan kitab-kitab yang telah ditentukan dalam jadwal pelajaran. Kajian utama dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jum’at karena waktu libur.
2.    Pengajian tambahan
Disamping program pengajian utama Ma’had Aly juga memberikan pengajian tambahan yang pelaksanaannya diluar pengajian utama dan bertempat dikediaman para Tuan Guru staf pengajar dengan bidang kajian yang tidak berbeda dengan pengajian utama.
Program kajian pada program tambahan meliputi : Tafsir, Fiqih, Tauhid, Faraid, Al-Qur’an, Hadits. Kitab pegangan yang disampaikan pada program pengajian tambahan adalah semua kitab penunjang dengan memperbanyak diskusi (Bahsul Masail).
      
3.    Program Pengabdian Masyarakat
Untuk mencapai tujuan umum atau khusus yang diinginkan maka Ma’had Aly Darul Hikam disamping program pengajian utama dan tambahan juga mewajibkan kepada para maha santri untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat berbentuk;
a.    Didalam Pondok Pesantren Nurul Hakim
                                   1)      Menjadi tenaga pengajar pengajian halaqoh kelas I,II dan III Madrasah Tsanawiayah
                                   2)      Menjadi tenaga pengasuh santi Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah di Ponpes Nurul Hakim menjadi pembimbing / pengurus pada kegiatan Pondok Pesantren antara lain: keterampilan menjahit, pertukangan, komputer, jamur, perkebunan, kepramukaan, olahraga dan seni, percetakan, warung dan dapur
b.    Diluar Ponpes Nurul Hakim
                                   1)      Melaksanakan kegiatan KKN singkat selama bulan Ramadhan pada beberapa tempat yang sudah ditentukan seperti di Bayan Lombok Utara, Sekotong Lombok Barat dan Marong Lombok Tengah.
                                   2)      Mengadakan pengajian umum diperkampungan / desa khususnya malam jum’at.
                                   3)      Mengadakan bakti social di desa tertingal di Lombok Barat.
                                   4)      Menjadi Khotib jum’at dibeberapamasjid , penceramah pada hari-hari besar Islam
                                                                                   
D.      Sistim / Metode Pendidikan Dan Pengajaran
Ma’had Aly Darul Hikmah menggunakan metode pesantren dimana maha santri diasramakan didalam Pondok Pesantren Nurul Hakim dan dibeberapa rumah penduduk khususnya bagi maha santri yang mendapat tugas pembinaan masyarakat secara umum.
   Karena mereka bertempat tinggal diasrama maka semua kegiatan selama 24 jam bisa dilaksanakan dengan baik sesuai dengan jadwal adapun metode pengajian adlah sebagai berikut :
1.    Wetonan  yaitu Tuan Guru membaca kitab kajian dan menerangkannya didepan maha santri  atau sebaliknya atau maha santri secara bergantian membaca kitab kajian didepan Tuan Guru.
2.    Halaqoh / Muzakarah / diskusi / Bahsul Masail .
3.    Pembuatan Makolah yang sifatnya tematis.


Profil Singkat Pon-Pes Nurul Hakim Kediri Lombok Barat NTB



Yayasan Pon-Pes Nurul Hakim Kediri
Yayasan Pon-Pes Nurul Hakim Kediri
1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Hakim
Pondok peantren Nurul Hakim berdiri pada tahun 1387 H/ 1948 M, walaupun jauh sebelumnya telah lama dirintis oleh Almarhum Bapak TGH. Abdul Karim yaitu tahun 1924 sekembali beliau dari tanah suci Makkah setelah bermuin dari tahun 1919 sampai tahun 1924 dengan mushalla kecil berukuran 8x8 m yang dipakai untuk semua aktifitas pendidikan. Di Makkah al mukarramah beliau menimba ilmu dari para alim ulama baik yang berasal dari suku sasak yaitu Bapak TGH. Abdul Hamid Sulaiman dan Bapak TGH. Mukhtar ataupun dari ulama yang bukan dari suku sasak yaitu TGH. Muhammad Sumbawa, TGH. Arsyad Sumbawa, TGH. Mukhtar bin Attarib Bogor, TGH. Akhyar Khalifah Bogor, Syaikh Abdul Kadir Mandailing, TGH. Usman Serawak, TGH. Zainuddin Serawak, Syaikh Ibrohim Fathoni, Syekh Jamaludin Maliky, Syekh Sayid Alwi Maliky, Syekh Abdul Jabar, Syekh Hasan Mufti Syafiiyah bin Syekh Said Yamani, Syekh Said Yamani, Syekh Sayid Amin Qutby. Dan dari Syekh Sayid Amin Qutby  beliau mendapatkan Ijazah tertulis pada tahun 1357 H untuk mengajar dalam bermacam-macam bidang ilmu.
Beliau kembali ke kampung halaman pada tahun 1939, sekembali beliau dari tanah suci Makkah yang kedua kalinya jelas menambah pengetahuan dan pengalaman beliau untuk melanjutkan pengabdian beliau dalam bidang pengembangan ilmu-ilmu Islam dan  Alat sepeti Nahwu dan Shorof.
Kehadiran beliau mengajar di Mushalla tersebut tidak sekedar membimbing anak-anak kampong saja, bahkan juga menarik minat para santri yang kebetulan tingal di kampong Kediri seperti yang tinggal di kerbung yang berada di sekitar kampung, kerbung adalah bahasa sasak yang berarti pondok. Walupun banyak santri yang mengaji di mushalla tersebut namun belum ada yang tinggal di bawah asuhan beliau sendiri karena seorang Tuan Guru (Kyai) junior tentu ingin dilihat ketekunannya oleh masyarakat begitu pula kemampuan ilmiyah dan akhlaknya.
Setelah para santri cukup lama mengikuti pengajian-pengajian halaqoh beliau dalam bermacam-macam cabang ilmu, maka pada tahun 1387 H/1948 M, beberapa orang baik yang sudah lama menetap pada pondok lain maupun yang baru meminta izin beliau membangun pondok-pondok kecil di sekitar mushalla yang beliau bangun 24 tahun yang lalu.
Dengan dimulainya area santri membangun pondok-pondok tersebut maka secara formal berdirilah Pondok pesantren Nurul Hakim di atas tanah pekarangan 4 are. Dengan jumlah santri yang menetap sebanyak 75 orang dan tidak menetap sebanyak 300 orang. Pergantian masa yang terus berjalan tidak mampu menahan perjalanan satu system dalam satu bentuk dan menuntut terjadinya perubahan, maka setelah kembalinya Bapak TGH. Shafwan Hakim (putra pendiri) dari tugas belajar di Masjidil Haram Makkah maka Pondok pesantren Nurul Hakim mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan serta kebutuhan ummat tanpa meninggalkan sistem pendidikan yang lama karena yang lamapun masih tetap diperlukan bahkan dilestarikan.
Untuk itu maka Pondok pesantren Nurul Hakim melakukan study banding, belajar, mengirimkan kader-kader untuk belajar ke berbagai lembaga di luar daerah seperti ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Ma'hadul Ulum Al Islamiyah Wal Arabiyah Jakarta, Jam'iyah Islamiyah Madinah Munawwarah dan Jam'iyah Al Azhar di Mesir. Disamping itu juga menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan khususnya kalangan pendidikan dan dakwah.
Pengiriman kader-kader ke Pondok Modern Gontor tidak saja dimaksudkan untuk sekedar menuntut ilmu tetapi semata tapi juga dimaksudkan untuk mengadopsi nilai-nilai dan system pendidikan. Dan untuk menerapkan hal itu maka pada tahun 1995 M/1414 H didirikanlah Program Pendidikan Khusus Kulliyatul Mu'allimin Al Islamiyah Pondok pesantren Nurul Hakim dengan mengadakan sedikit penyesuaian kondisional dengan masa belajar selam 6 tahun. Kurikulum merupakan perpaduan antara: 1) Pondok peantren Nurul Hakim, 2) KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.  

2. Visi dan Misi Pondok Pesantren Nurul Hakim
Visi dan misi dari Program pendidikan khusus KMMI adalah Menciptakan anak didik yang bertauhid dan berakhlaqul karimah untuk menjadi generasi yang imany, amaly, dan robbany yang mampu membangun peradaban Islam pada semua sektor kehidupan serta menyebarkan, menyuburkan dan menumbuhkan syari'at, pemikiran dan tradisi intelektual Islam yang kaffah, adalah visi dan misi Pondok pesantren Nurul Hakim (Khususnya Program pendidikan khusus KMMI) atas dasar itu maka system, kurikulum dan segala hal yang terkait dengan kegiatan pendidikan haruslah merupakan satu kesatuan yang terpadu.
Dengan system pendidikan yang disusun sedemikian rupa diharapakan santri/santriwati Pondok pesantren (khususnya PPKh-KMMI) akan mampu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi pada semua jurusan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, baik pada perguruan tinggi umum atau agama. Dalam jangka panjang diharapkan santri/santriwati dapat beribadah/beramal pada semua lini/sector kehidupan untuk mengaktualkan tujuan agama Islam/syari'at Islam.

3. Pimpinan Sekarang
  1. Nama                          : TGH. Shafwan Hakim
  2. TTL                             : Kediri Lobar, 11 Juni 1947
  3. Alamat                                    : Karang Bedil Kediri Lombok Barat NTB.
  4. Istri                              : Hj. Raehan
  5. Anak                           : Laki-laki        : 7        Perempuan      : 6
  6. Riwayat Pendidikan   :
a. Sekolah Rakyat       : Tahun 1959
b. PGA                        : Tahun 1963
c. SP IAIN                  : Tahun 1965
d. SARMUD IAIN    : Tahun 1968
e. Masjidil Haram        : Tahun 1975

  1. Nama                          : TGH. Muharrar Mahfuz
  2. TTL                             : Kediri Lobar, Tahun 1953
  3. Alamat                                    : Sedayu Kediri Lombok Barat NTB.
  4. Istri                              : Hj. Martunah
  5. Anak                           : Laki-laki        : -         Perempuan      : 6
  6. Riwayat Pendidikan   :
a. Sekolah Dasar         : Tahun 1966
b. PGA                        : Tahun 1969
c. SP IAIN                  : Tahun 1971
d. IKIP MATARAM  : Tahun 1978

  1. Nama                          : TGH. Muzakkar Idris, Lc.
  2. TTL                             : Kediri Lobar, 1964
  3. Alamat                                    : Sedayu Kediri Lombok Barat NTB.
  4. Istri                              : Dra. Hj. Hasibah Ibrahim.
  5. Anak                           : Laki-laki        : 3        Perempuan      : 1
  6. Riwayat Pendidikan   :
a. Madrasah Diniyah               : Tahun 1975
b. Sekolah Dasar                     : Tahun 1976
c. KMI Gontor                                    : Tahun 1983
d. IPD Gontor                         : Tahun 1988
e. Univ. Islam Madinah          : Tahun 1993


Belajar dari Imam Malik Dalam Mencintai Ilmu


Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amar bin Harits, dilahirkan di Madinah pada 93 Hijrah. Moyangnya Abu Amir berasal dari Yaman yang berhijrah ke Madinah untuk berguru dengan Rasulullah s.a.w dan menjadi antara sahabat baginda yang setia. Ibunya pula Aliyah Syuraik dan ada riwayat menyatakan ibunya mengandungkan dia selama dua tahun sebelum melahirkannya di Kampung Zuwarmah di utara Madinah. Malik dilahirkan pada zaman pemerintahan khalifah Umaiyyah keenam, Khalifah Al-Walid Abdul Malik Madinah yang terkenal sebagai pusat ilmu telah memupuk cintanya terhadap ilmu al-Quran dan hadis.
Dia akan membuat satu simpulan tali setiap kali belajar sesebuah hadis untuk mengingatkannya jumlah hadis yang dipelajarinya. Punya daya ingatan yang sangat kuat, dan pernah suatu ketika gurunya, Ibnu Syihab menyampaikan 30 hadis, dia hanya mendapat 29 hadis saja; dia sanggup bertemu gurunya semula memintanya mengulang semula satu hadis yang tertinggal itu.Zaman remajanya, Malik pelajar yang sangat miskin sehingga terpaksa menjual kayu dari bumbung rumahnya yang runtuh untuk mendapatkan wang. Dalam usia 17 tahun, dia sudah mendalami pelbagai ilmu agama. Dia juga masih sangat rajin belajar walaupun selepas berumah tangga dan dikatakan mempunyai 900 orang guru yang separuh daripadanya adalah ulama tabien.
Malik sangat mencintai ilmu hadis dan dikatakan, jika dia dipanggil untuk bercakap mengenai fikah, dia terus keluar dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tetapi jika dia dipanggil untuk bercakap mengenai hadis, dia akan mandi, berpakaian kemas serta memakai harum-haruman sebelum keluar. Dia juga melarang orang bercakap nyaring dalam majlis hadis sebagai menghormati Rasulullah kerana hadis datangnya daripada Rasulullah. Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul hadis yang diterima daripada gurunya. Sebanyak 100,000 hadis dihafalnya, tetapi selepas disaring, hanya 10,000 diakui sah, yang kemudian dipadankan dengan firman Allah. Akhirnya, hanya 5,000 yang diterima sebagai benar-benar sabda Rasulullah. Hadis ini dihimpun dalam kitab pertamanya, al-Muwatta’.Ada riwayat menyatakan, khalifah kedua Bani Umaiyah, Abu Jaafar al-Mansur di Baghdad menggesa Malik supaya menulis ilmunya untuk dijadikan rujukan.
Selepas mengumpul hadis itu, dia bingung memikirkan judul sesuai untuk kitabnya sehingga bermimpi dikunjungi Rasulullah yang bersabda kepadanya, “sebarkan kitab ini kepada manusia.” Akhirnya dia memutuskan untuk menamakan kitab sulungnya itu al-Muwatta’ bermaksud Yang Disepakati atau Tunjang atau Panduan. Kerana lamanya masa yang diambil untuk menyusun kitab ini, khalifah meninggal sebelum sempat menatapnya. Pada zaman pemerintahan Harun al-Rashid, al-Muwatta’ begitu dihormati sehingga khalifah mencadangkan kitab itu digantung di Kaabah sebagai lambang perpaduan ulama dalam hal agama tetapi dibantah Malik. Khalifah pernah mengutus Syeikh al-Barmaki untuk menjemput Malik mengajar di istananya. Sebaliknya Malik menjawab, “ilmu pengetahuan harus didatangi dan tidak disuruh mendatangi.” Utusan itu pulang ke Iraq dan menyampaikan pesan berkenaan. Khalifah menghantar dua anak lelakinya ke majlis ilmu Malik di Madinah.
Ketika menunaikan haji, khalifah sempat menemui Malik dan memintanya membacakan kitabnya. Malik sebaliknya meminta khalifah hadir ke majlis ilmunya sahaja. Khalifah membalas, mahu mendengar kitab itu di rumah Malik sendiri tetapi Malik merendah diri menyatakan, kediamannya buruk, tidak sesuai untuk dikunjungi seorang amirul mukminin.Khalifah menghadiahkan 3,000 dinar emas kepada Malik untuk membina rumah baru. Hanya sedikit wang yang digunakan dan selebihnya diberikan kepada sahabat lain. Suatu hari, semasa khalifah di Madinah, sekali lagi Malik dijemput ke tempatnya untuk membacakan al-Muwatta’.Mulanya dia enggan tetapi akhirnya bertukar fikiran lalu ke tempat khalifah. Katanya, “saya harap janganlah tuanku jadi orang pertama yang tidak menghormati ilmu. Saya tidak menolak permintaan tuanku tetapi saya harap tuanku menghargai ilmu supaya Allah menghargai tuanku.”Khalifah bersetuju mengikut Malik ke rumah.
Selepas duduk di kerusi khasnya, khalifah menegur kerana terdapat ramai orang lain di situ. Tetapi Malik membalas, “jika orang ramai tidak dibenarkan mendengar isi kitab ini, nescaya Allah tidak akan memberi rahmat kepada seorang pendengar pun.” Khalifah akhirnya bersetuju membenarkan orang lain mendengar sama.Malik menyuruh pelajarnya Ma’an membaca al-Muwatta’, tetapi sebelum pelajar itu membuka mulut, Malik mencelah, “Para pencinta ilmu sangat menghargai ilmu. Tiada sesiapa akan duduk lebih tinggi daripada ilmu.” Mendengar sindiran itu, khalifah turun duduk di lantai bersama yang lain.
Antara sikap Malik, dia tidak pernah menolak hadiah yang diberikan kerana baginya ilmu pengetahuan memang wajar mendapat penghargaan, apatah lagi ilmu agama. Bagaimanapun banyak wang hadiah yang diberikan kepada pelajarnya. Hidupnya tidak mewah tetapi dia gemar berpakaian kemas kerana baginya pakaian yang kotor dan tidak senonoh akan menjatuhkan maruah ulama.Malik pernah berdepan cabaran hebat pada masa pemerintahan Abu Jaafar al-Mansur, ketika anak saudara khalifah, Jaafar Sulaiman menjadi gabenor Madinah. Gabenor muda dan tidak berpengalaman itu kurang menghormati ulama, apatah lagi ketika itu terdapat ramai yang mendengki Malik kerana kedudukannya.Termakan hasutan, Malik yang berusia 54 tahun ketika itu ditahan dan diseksa dengan 70 sebatan. Hukuman itu mencetuskan kemarahan orang Madinah, sangat membimbangkan khalifah di Baghdad, lantas Jaafar dipecat. Khalifah dengan rendah diri berjumpa Malik untuk meminta maaf dengannya. Hubungan baiknya dengan khalifahlah yang mendorongnya menulis al-Muawatta’ yang terkenal itu.

Malik kembali ke rahmatullah pada Rabiulawal 179 Hijrah, dalam usia 90 tahun selepas menghidap sakit tua selama 20 hari dan dikebumikan di Baqi. Dia meninggalkan seorang balu, tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan. Hanya anak perempuan tunggalnya, Fatimah yang mewarisi ilmunya mendalami al-Muwatta’. Seumur hidupnya, Malik tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali ketika menunaikan haji ke Mekah. Namun dia berjaya mengumpul ramai pelajar yang datang dari luar Madinah. Pelajarnya yang ramai inilah bertanggungjawab melebarkan Mazhab Maliki ke seluruh pelusuk dunia.

Kisah Sahal bin Hanif

سهل بن حنيف

نسب سهل بن حنيف وقبيلته :
سهل بن حنيفسهل بن حنيف بن واهب بن العكيم بن ثعلبة بن مجدعة.
أهم ملامح شخصية سهل بن حنيف:
صفات يعجز الإنسان عن وصفها لهذا الصحابي الجليل، منها حب الرسول والتفاني في الدفاع عنه، وقد ظهر هذا واضحًا جليًّا في دفاعه عن رسول الله يوم غزوة أحد.
وكذلك من هذه الصفات الشجاعة والإقدام، فهو قد حضر المشاهد كلها مع رسول الله، وشهد معارك أمير المؤمنين علي بن أبي طالب.
من مواقف سهل بن حنيف مع الرسول :
شهد بدرًا والمشاهد كلها مع رسول الله، وثبت يوم أحد  وكان بايعه يومئذٍ على الموت، فثبت معه حين انكشف الناس عنه وجعل ينضح بالنبل يومئذ عن رسول الله، فقال رسول الله: "نبلوا سهلاً فإنه سهل"[1].
وقال الزهري: لم يعط رسول الله من أموال بني النضير أحدًا من الأنصار إلا سهل بن حنيف، وأبا دجانة. وكانا فقيرين[2].
من مواقف سهل بن حنيف مع الصحابة :
مواقف عديدة بين سهل بن حنيف وعلي بن أبي طالب -رضي الله عنهما- وشاء القدر أن يجمع بين هذين الصحابيين، فلا نكاد نقرأ اسم واحد منهما إلا نجده مقرونًا باسم أخيه، فقد آخى بينهما رسول الله في الله؛ لذا كان لزامًا علينا أن نذكر بعض المواقف في حياتهما، فلا أظن أن سيدنا سهل لو كان حيًّا كان سيغفر لنا أن نكتب عنه بحثًا ولا نذكر فيه أخاه ورفيق دربه أمير المؤمنين علي بن أبي طالب.
وكانت هناك بقباء امرأة لا زوج لها مسلمة، فيقول علي : فرأيت إنسانًا يأتيها من جوف الليل فيضرب عليها بابها فتخرج إليه، فيعطيها شيئًا معه فتأخذه. قال: فاستربت بشأنه، فقلت لها: يا أمة الله، من هذا الرجل الذي يضرب عليك بابك كل ليلة، فتخرجين إليه فيعطيك شيئًا لا أدري ما هو وأنت امرأة مسلمة لا زوج لك؟ قالت: هذا سهل بن حنيف بن واهب، قد عرف أني امرأة لا أحد لي، فإذا أمسى عدا على أوثان قومه فكسرها ثم جاءني بها. فقال: احتطبي بهذا. فكان علي  يأثر ذلك من أمر سهل بن حنيف حتى هلك عنده بالعراق[3].
وهكذا كان دأب صحابة رسول الله كفالة الفقير، وتقديم يد العون له، وبذلك يكون المجتمع الإسلامي كالجسد الواحد يشد بعضه بعضًا.
بعض الأحاديث التي رواها سهل بن حنيف عن رسول الله :
عن يسير بن عمرو قال: قلت لسهل بن حنيف: هل سمعت النبي يقول في الخوارج شيئًا؟ قال سمعته يقول وأهوى بيده قبل العراق: "يخرج منه قوم يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم، يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية"[4].
وعن ابن أبي ليلى أن قيس بن سعد وسهل بن حنيف كانا بالقادسية، فمرت بهما جنازة فقاما، فقيل لهما: إنها من أهل الأرض. فقالا: إن رسول الله مرت به جنازة فقام، فقيل إنه يهودي، فقال: "أليست نفسًا"[5].
وفاة سهل بن حنيف :
توفي سهل بن حنيف  بالكوفة سنة ثمانٍ وثلاثين، وصلى علي  على سهل بن حنيف، فكبر عليه ستًّا، ثم التفت إلينا فقال: إنه بدري[6].

[1] ابن حجر: الإصابة في تمييز الصحابة 3/198.
[2] الذهبي: تاريخ الإسلام 1/478.
[3] ابن هشام: السيرة النبوية 3/21.
[4] رواه البخاري: باب من ترك قتال الخوارج للتألف ولئلا ينفر الناس عنه (6535)، 6/2541.
[5] رواه مسلم: باب القيام للجنازة (2269)، 3/58.

[6] رواه الطبراني في الكبير (5546)، 6/72.